perjalanan.id – Di tengah masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Gunungkidul (Yogyakarta), Wonogiri, Pacitan, dan Trenggalek, ada dua makanan tradisional yang pernah menjadi penyelamat di masa sulit: gatot dan tiwul. Keduanya berasal dari bahan yang sama, yaitu singkong (ketela pohon), yang diolah menjadi sumber karbohidrat alternatif pengganti nasi. Meski sederhana, gatot dan tiwul menyimpan sejarah panjang, nilai budaya, serta rasa yang kini kembali digemari sebagai camilan autentik.
Apa Itu Tiwul?
Tiwul (atau thiwul) adalah olahan tepung dari gaplek — singkong yang dikupas, diiris tipis, lalu dijemur hingga kering. Gaplek ditumbuk kasar menjadi tepung, kemudian diberi sedikit air hingga membentuk butiran-butiran kecil. Adonan ini dikukus hingga matang, menghasilkan tekstur pulen semi-basah, agak menggumpal, berwarna kuning kecoklatan, dan aroma khas singkong.
Dulu, tiwul menjadi makanan pokok sehari-hari di daerah tandus yang sulit menanam padi atau saat paceklik. Saat penjajahan Jepang (1940-an) hingga masa kemerdekaan, tiwul sering menggantikan nasi karena beras langka dan mahal. Bahkan rombongan gerilyawan Jenderal Sudirman dalam perjalanan panjangnya dari Yogyakarta ke Jawa Timur pernah mengandalkan tiwul dan gatot dari warga setempat untuk mengisi perut.
Cara penyajiannya fleksibel:
- Versi asin: dimakan seperti nasi bersama urap sayur, tempe goreng, ikan asin, atau sambal.
- Versi manis: dicampur gula jawa cair, taburan kelapa parut, kadang ditambah daun pandan untuk aroma.
Kini, tiwul banyak dijual dengan inovasi rasa kekinian seperti cokelat, keju, nangka, atau pandan, terutama sebagai oleh-oleh khas Gunungkidul.
Apa Itu Gatot?
Gatot (atau gathot) berasal dari gaplek juga, tapi melalui proses yang berbeda. Singkong yang dipilih seringkali yang “gagal tumbuh” atau sengaja dibiarkan berjamur selama fermentasi alami. Gaplek direndam beberapa hari (kadang hingga dua malam), lalu dikukus bersama gula merah, garam, dan kelapa parut. Hasilnya berupa potongan kenyal berwarna hitam pekat, tekstur kenyal seperti jelly, dengan rasa manis-asin-gurih yang unik.
Nama “gatot” konon berasal dari kata “gagal total”, mengacu pada singkong yang tidak berkembang sempurna dan dibiarkan berjamur. Proses fermentasi ini memberikan warna hitam alami dan rasa khas yang sulit ditiru.
Gatot biasanya disajikan sebagai camilan, sering dipadukan dengan tiwul dan kelapa parut. Perpaduan kenyal-manis-asin dari gatot, pulen-manis dari tiwul, serta gurih dari kelapa membuatnya sangat menggugah selera.
Sejarah dan Nilai Budaya
Gatot dan tiwul bukan sekadar makanan pengganjal perut. Mereka lahir dari kearifan lokal menghadapi kondisi alam yang keras — tanah kapur di Gunungkidul yang tandus dan sering kekurangan air. Saat krisis pangan melanda (termasuk tahun 1960-an di Gunungkidul), singkong menjadi andalan karena mudah ditanam dan tahan lama dalam bentuk gaplek.
Keduanya juga muncul dalam catatan sejarah kuliner Jawa, bahkan terdokumentasi dalam Serat Centhini (abad ke-18). Di masa perjuangan kemerdekaan, makanan ini menjadi simbol ketangguhan dan solidaritas rakyat. Kini, meski beras sudah melimpah, gatot dan tiwul tetap lestari sebagai bagian identitas budaya, sering muncul di acara adat, slametan, atau sekadar camilan nostalgia.
Manfaat dan Keunikan
Dibanding nasi, gatot dan tiwul punya kalori lebih rendah tapi serat lebih tinggi, sehingga lebih mengenyangkan dan cocok untuk diet. Singkong juga kaya potassium, magnesium, serta vitamin B. Plus, tiwul bebas gluten, aman bagi yang punya intoleransi gluten.
Di era modern, keduanya justru naik daun sebagai makanan tradisional sehat dan autentik. Banyak pelaku UMKM mengemasnya dalam bentuk instan atau varian rasa baru agar lebih mudah dinikmati generasi muda.
Gatot dan tiwul adalah bukti bahwa dari bahan sederhana bisa lahir cita rasa luar biasa, sekaligus mengingatkan kita pada ketangguhan leluhur. Kalau ke Gunungkidul atau Jogja, jangan lupa mencicipi langsung — atau bawa pulang sebagai oleh-oleh yang penuh cerita!
