Kue Moho, Camilan Tradisional Manis Legit Khas Betawi yang Lembut dan Harum

perjalanan.id – Kue Moho adalah salah satu jajanan tradisional Betawi yang paling ikonik dan dicintai hingga kini. Camilan ini berbentuk bulat pipih dengan tekstur lembut, moist, dan sangat harum karena campuran rempah khas seperti kayu manis, cengkeh, dan pala. Di luar lapisan tipis berwarna kecokelatan yang sedikit renyah, bagian dalamnya berwarna kuning kecokelatan lembut seperti sponge cake, dengan rasa manis gurih yang pas di lidah.

Kue Moho sering disebut sebagai “kue tradisional Betawi yang hampir punah” karena pembuatannya cukup rumit dan membutuhkan ketelatenan tinggi. Namun di era 2026, kue ini kembali naik daun berkat tren nostalgia kuliner dan banyaknya penjual rumahan serta kafe yang menghidupkan kembali resep turun-temurun.

Asal Usul dan Sejarah Kue Moho

Kue Moho berasal dari pengaruh kuliner Betawi pada masa kolonial Belanda. Nama “Moho” konon berasal dari kata Belanda “mooi” (artinya cantik/indah), merujuk pada tampilan kue yang rapi dan menarik. Ada juga yang menyebutnya berasal dari kata “moho” dalam bahasa Sunda/Betawi yang berarti “lembut” atau “halus”.

Kue ini dulunya sering disajikan dalam acara adat Betawi seperti sunatan, pernikahan, atau arisan keluarga besar. Di masa lalu, pembuatannya dilakukan secara tradisional menggunakan oven tanah liat atau tungku arang—sehingga aroma kayu bakar menambah kelezatan khasnya.

Bahan dan Cara Pembuatan Kue Moho

Bahan utama kue Moho sangat sederhana tapi kuncinya ada pada proporsi dan teknik pengocokan:

Proses pembuatan singkat:

  1. Kocok telur dan gula hingga mengembang kaku (bisa sampai 15–20 menit dengan mixer).
  2. Masukkan santan, margarin cair, dan rempah-rempah secara bertahap sambil terus dikocok.
  3. Ayak tepung terigu bersama baking powder dan soda, lalu masukkan perlahan dengan teknik aduk balik agar adonan tidak kempes.
  4. Tuang ke dalam cetakan bulat kecil (biasanya cetakan aluminium atau loyang muffin mini) yang sudah diolesi margarin dan ditaburi tepung.
  5. Panggang di oven suhu rendah (sekitar 150–160°C) selama 25–35 menit hingga matang dan permukaan kecokelatan.

Hasilnya: kue yang mengembang sempurna, permukaan retak-retak cantik (crack surface), dalamnya lembut seperti sponge, dan aroma rempah khas Betawi yang kuat.

Cita Rasa dan Karakteristik Khas

Di Mana Bisa Menemukan Kue Moho di 2026?

Harga per biji biasanya Rp 3.000–Rp 7.000 tergantung ukuran dan kualitas. Versi premium menggunakan telur kampung dan santan asli sering lebih mahal tapi rasanya jauh lebih autentik.

Di tengah maraknya kue modern dengan topping cokelat, cheese, atau matcha, kue Moho mengingatkan kita pada kesederhanaan dan kekayaan rasa tradisional Indonesia. Aromanya yang khas, teksturnya yang lembut, dan cerita budaya di baliknya membuat camilan ini tetap relevan—bahkan semakin dicari oleh generasi muda yang ingin reconnect dengan akar budaya.

Jika kamu ke Jakarta atau punya nenek/mamak yang jago masak Betawi, coba minta dibuatkan kue Moho—atau pesan online dan nikmati bersama keluarga. Camilan kecil ini membawa cerita besar tentang warisan kuliner Betawi yang hampir punah tapi kini bangkit kembali.

Exit mobile version