perjalanan.id – Saya pertama kali melakukannya tahun lalu. Tiket ekonomi Jakarta–Malang, 14 jam perjalanan, tanpa teman, tanpa rencana ketemu siapa-siapa di ujung sana. Hanya saya, ransel 45 liter, buku setengah jadi, dan playlist yang sudah bertahun-tahun tak pernah di-update.
Malam Pertama: Kursi 12A, Jendela Kiri
Kereta berangkat jam 19.15 dari Stasiun Pasar Senen. Begitu lampu ruang tunggu ditinggalkan, saya langsung merasakan sensasi aneh yang hanya dimengerti orang yang pernah traveling solo: kebebasan sekaligus kesepian yang datang bersamaan.
Di depan saya ada ibu-ibu penjual gorengan yang pulang kampung. Di sebelah, cowok muda dengan hoodie menutup wajah, tidur sebelum kereta bergerak. Saya membuka jendela sedikit, angin malam Jakarta yang bau asap knalpot masuk, lalu perlahan berganti aroma sawah basah begitu memasuki Cikampek.
Saya tidak tidur sampai tengah malam. Hanya menatap gelap di luar, sesekali melihat pantulan wajah sendiri di kaca jendela. Di situlah pertama kali saya sadar: selama ini saya terlalu sering mengisi keheningan dengan obrolan orang lain. Sekarang, keheningan itu milik saya sendiri, dan ternyata berat.
Subuh di Stasiun Kertosono
Pukul 04.20, kereta berhenti agak lama. Lampu neon stasiun kecil menyelinap masuk gerbong. Saya turun sebentar, membeli kopi sachet dan roti tawar dari pedagang asongan. Udara dingin menusuk, tapi entah kenapa rasanya hidup sekali.
Di peron sebelah, ada seorang bapak tua dengan sarung dan kopiah putih duduk sendirian, memandang kereta ekonomi yang lewat. Kami saling tersenyum tanpa bicara. Mungkin dia juga sedang menjalani train journey solonya sendiri. Momen itu terasa suci, seperti dua orang asing yang sama-sama paham bahwa hidup ini kadang cukup dijalani tanpa kata.
Pagi yang Mengubah Segalanya
Matahari terbit di antara Nganjuk dan Kediri. Langit berwarna peach, sawah hijau membentang, dan gunung Wilis muncul di kejauhan seperti lukisan hidup. Saya mematikan musik, membuka jendela lebar-lebar, membiarkan angin menerpa wajah.
Tiba-tiba saya menangis. Bukan karena sedih, tapi karena terlalu kagum. Selama ini saya sibuk mengejar tujuan, lupa menikmati proses. Kereta ini, dengan segala ketidaknyamanannya—kursi keras, toilet bau, penumpang yang mendengkur—malah mengajarkan saya rasa syukur yang paling jujur.
Malang, 09.10
Sampai di Stasiun Malang Kota Baru, badan pegal, mata merah, tapi hati entah kenapa penuh. Saya tidak langsung cari penginapan. Saya duduk dulu di bangku peron, menulis di buku catatan kecil:
“Hari ini aku belajar tiga hal:
- Sendirian bukan berarti kesepian.
- Perjalanan terbaik seringkali tidak ada di tujuan, tapi di antara stasiun-stasiun kecil yang tak pernah kita rencanakan.
- Ternyata aku kuat. Lebih kuat dari yang aku kira.”
Kenapa Train Journey Solo Begitu Spesial?
- Kamu dipaksa berdamai dengan pikiranmu sendiri. Tidak ada teman untuk mengalihkan perhatian.
- Kamu bertemu orang-orang yang tidak akan pernah kamu temui di kafe hits atau coworking space. Mereka nyata, penuh cerita, dan biasanya baik hati.
- Waktu berjalan lambat. 14 jam terasa seperti 14 hari. Kamu punya ruang untuk merenung, menulis, membaca, atau sekadar menatap sawah tanpa merasa bersalah.
- Biayanya murah, tapi pengalamannya mahal.
Tips Kalau Kamu Mau Coba
- Pilih rute malam agar bisa tidur dan hemat penginapan.
- Bawa jaket tebal, bantal leher, dan selimut tipis (AC kereta ekonomi dingin banget).
- Siapkan camilan dan air minum sendiri.
- Jangan takut ngobrol sama penumpang sebelah—banyak cerita indah lahir dari situ.
- Matikan data seluler sesekali. Biarkan dirimu benar-benar “hilang” sejenak.
Sekarang, setiap kali hidup terasa berat, saya langsung buka aplikasi tiket kereta. Tidak perlu alasan khusus. Cukup satu kursi dekat jendela, satu kota yang belum pernah saya kunjungi, dan keberanian untuk berangkat sendirian.
