Festival Perahu Naga, Tradisi Kuno yang Penuh Semangat dan Makna Mendalam
perjalanan.id – Setiap tahun, jutaan orang di China, Taiwan, Hong Kong, dan komunitas Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia, merayakan Festival Perahu Naga atau Dragon Boat Festival (Duanwu Jie / 端午节). Festival yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek ini bukan hanya ajang olahraga seru, melainkan warisan budaya lebih dari 2.000 tahun yang kaya akan sejarah, tradisi, dan nilai-nilai luhur.
Asal Usul dan Legenda Qu Yuan
Festival ini paling erat dikaitkan dengan kisah Qu Yuan (sekitar 340–278 SM), seorang penyair dan menteri setia Kerajaan Chu pada zaman Negara-negara Berperang. Qu Yuan dikenal sebagai pejabat yang jujur dan patriotik, tetapi ia difitnah dan diasingkan oleh penguasa. Ketika Kerajaan Chu jatuh ke tangan musuh, Qu Yuan merasa putus asa dan terjun ke Sungai Miluo untuk bunuh diri sebagai bentuk protes dan kesetiaan kepada tanah airnya.
Penduduk setempat yang sangat menyayanginya segera mendayung perahu untuk mencari jenazahnya. Mereka memukul air dengan dayung dan melemparkan beras (dalam bentuk dumpling) ke sungai agar ikan tidak memakan tubuh Qu Yuan. Dari sinilah muncul tradisi lomba perahu naga dan makan zongzi (bakcang).
Selain Qu Yuan, ada legenda lain seperti memperingati Wu Zixu atau Cao E, tetapi kisah Qu Yuan tetap yang paling populer.
Tradisi Utama Festival Perahu Naga
- Lomba Perahu Naga Ini adalah atraksi paling spektakuler. Perahu panjang berhiaskan kepala dan ekor naga dikayuh oleh puluhan pendayung mengikuti irama genderang yang menggelegar. Lomba ini melambangkan semangat kerjasama tim, kekuatan, dan persatuan. Saat ini, olahraga perahu naga telah menjadi acara internasional yang diikuti banyak negara.
- Makan Zongzi (Bakcang) Kue beras ketan yang dibungkus daun bambu atau reed ini menjadi makanan khas. Isinya bisa manis (kacang, kurma) atau asin (daging, kacang tanah). Zongzi melambangkan penghormatan kepada Qu Yuan.
- Ritual Penolak Bala
- Menggantung daun mugwort (artemisia) dan calamus di pintu rumah untuk mengusir roh jahat dan penyakit.
- Minum anggur realgar (realgar wine).
- Anak-anak memakai benang lima warna di pergelangan tangan untuk perlindungan.
- Membawa kantong wangi (sachet) berisi herbal.
Festival ini juga bertepatan dengan musim panas, sehingga banyak tradisi bertujuan menjaga kesehatan dan mengusir wabah.
Perayaan di Indonesia
Di Indonesia, festival ini dikenal sebagai Peh Cun (dari bahasa Hokkien yang berarti mendayung perahu naga). Komunitas Tionghoa merayakannya dengan makan bakcang dan berbagai acara budaya. Meski lomba perahu naga tidak selalu digelar secara besar-besaran, semangatnya tetap hidup melalui kuliner dan kegiatan keluarga.
Makna Kontemporer
Di era modern, Dragon Boat Festival tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mempromosikan nilai-nilai seperti patriotisme, kerjasama tim, dan penghormatan terhadap leluhur. Di China, festival ini menjadi salah satu hari libur nasional yang mendorong pariwisata dan pertemuan keluarga.
Festival Perahu Naga mengingatkan kita bahwa di balik gemuruh genderang dan dayung yang lincah, ada kisah perjuangan, kesetiaan, dan harapan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.