Anging Mammiri, Angin Semilir yang Membawa Rindu dari Tanah Makassar

Anging Mammiri, Angin Semilir yang Membawa Rindu dari Tanah Makassar
  • PublishedJanuary 12, 2026

perjalanan.id – Di tanah Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Makassar dan Bugis, ada satu kata yang begitu puitis sekaligus menyentuh: Anging Mammiri. Dalam bahasa Makassar, frasa ini secara harfiah berarti “angin yang berhembus semilir” — angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan, kenangan, dan seringkali… kerinduan yang mendalam.

Nama ini bukan sekadar deskripsi cuaca. “Anging Mammiri” telah menjadi simbol budaya, judul lagu daerah legendaris, bahkan julukan bagi Kota Makassar sendiri yang sering disebut “Kota Anging Mammiri” karena angin lautnya yang lembut dan menyegarkan sepanjang tahun.

Asal-Usul Lagu yang Abadi

Lagu Anging Mammiri diciptakan sekitar tahun 1940-an oleh seniman dan pemimpin orkes legendaris Borra Daeng Ngirate (atau Bora Dg. Irate). Ciptaan ini diambil dan diadaptasi dari Lontara’ Kelong — naskah sastra tradisional Makassar yang berbentuk puisi bernyanyi.

Liriknya sederhana namun sangat dalam: seorang perantau (atau kekasih yang ditinggal) menitipkan pesan rindu kepada angin semilir, agar angin itu menyampaikannya ke jendela rumah orang yang dirindukan — orang yang “sering lupa” atau jauh di sana.

Berikut potongan lirik asli beserta terjemahan bebasnya:

Anging mammiri ku pasang Pitujui tontonganna Tusaroa takkan lupa Eaule… na mangu rangi Tutenaya, tutenaya parisina Battumi anging mammiri…

Artinya kurang lebih:

Angin semilir kutitipkan pesan Sampaikan ke jendelanya Kepada yang sering lupa Oh… yang membawa perasaan rindu Yang menyapu air mata Datanglah angin semilir…

Melodi yang lembut, mellow, dan penuh perasaan membuat lagu ini mudah menyentuh hati — baik dinyanyikan dalam versi klasik oleh Iwan Tompo, aransemen orkestra oleh Addie MS, hingga cover modern bossa nova atau pop kekinian.

Makna Filosofis yang Masih Relevan

Lagu ini bukan hanya tentang cinta romantis. Banyak orang Makassar dan Bugis menafsirkan Anging Mammiri sebagai simbol kerinduan kepada kampung halaman bagi para perantau. Angin yang bertiup lembut mengingatkan mereka pada tanah kelahiran, keluarga, dan akar budaya yang tak pernah pudar meski jarak memisahkan.

Tak heran jika lagu ini sering mengiringi Tari Anging Mammiri — tarian tradisional yang gerakannya lembut mengikuti hembusan angin, seolah menari bersama rindu itu sendiri.

Anging Mammiri di Kehidupan Sehari-hari

Hingga tahun 2026, nama “Anging Mammiri” hidup di mana-mana:

  • Pelabuhan Anging Mammiri — pelabuhan kedua tersibuk di Sulawesi
  • Pantai Anging Mammiri — spot indah untuk menikmati sunset dan angin sepoi
  • Hotel Anging Mammiri — salah satu penginapan populer di Makassar
  • Bahkan koperasi wanita dan komunitas lokal menggunakan nama ini sebagai simbol solidaritas dan kebersamaan

Semua itu berakar dari satu lagu sederhana yang lahir dari hembusan angin semilir di pesisir Makassar.

Di era digital sekarang, ketika rindu bisa disampaikan lewat pesan instan, lagu Anging Mammiri mengajarkan kita sesuatu yang lebih dalam: kadang perasaan paling tulus justru lebih indah jika dititipkan pada sesuatu yang tak terlihat, seperti angin.

Jadi, kalau suatu hari kamu berada di Makassar, cobalah berdiri di tepi pantai saat senja. Biarkan angin semilir menyentuh wajahmu. Siapa tahu, di dalam hembusannya ada pesan rindu yang sedang dibawa pulang ke hatimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *