Tips Solo Travel Aman untuk Pemula, Jangan Langsung ke Tempat Ekstrem

Tips Solo Travel Aman untuk Pemula, Jangan Langsung ke Tempat Ekstrem
  • PublishedJanuary 16, 2026

perjalanan.id – Solo travel adalah cara terbaik untuk mengenal diri sendiri, menikmati kebebasan, dan menciptakan cerita pribadi yang tak terlupakan. Bagi pemula, sensasi ini memang menggoda, tapi jangan sampai terburu-buru memilih destinasi yang terlalu menantang. Banyak pemula tergiur hiking gunung berapi aktif, diving di spot arus deras, atau backpacking ke daerah terpencil tanpa infrastruktur memadai — padahal risiko cedera, tersesat, atau situasi darurat bisa sangat tinggi saat sendirian.

Prinsip utama untuk pemula: Mulai dari yang mudah dan aman dulu. Bangun kepercayaan diri secara bertahap. Berikut tips lengkap agar solo travel pertama kamu tetap seru, aman, dan minim drama.

1. Pilih Destinasi yang Ramah Pemula

Hindari langsung ke tempat ekstrem seperti pendakian Gunung Rinjani tanpa guide, diving di spot arus kuat Komodo, atau eksplorasi hutan belantara Papua sendirian. Mulailah dari destinasi yang:

  • Punya infrastruktur wisata baik (transportasi mudah, banyak akomodasi, ATM, rumah sakit dekat).
  • Ramah solo traveler (banyak hostel, cafe, atau komunitas backpacker).
  • Relatif aman dan tidak terlalu liar.

Rekomendasi awal untuk pemula di Indonesia:

  • Bali (Ubud, Canggu, atau Seminyak) — mudah transportasi, banyak turis solo, vibe santai.
  • Yogyakarta — kota budaya, murah, aman jalan kaki malam hari di area Malioboro.
  • Bandung atau Malang — dekat, cuaca sejuk, banyak spot Instagramable tapi tidak ekstrem.
  • Lombok (Kuta Lombok atau Senggigi) — lebih tenang dari Bali, tapi masih punya fasilitas lengkap.

Hindari dulu: Pulau terpencil tanpa akses mudah, daerah rawan bencana alam aktif, atau wilayah konflik.

2. Riset Matang Sebelum Berangkat

Jangan asal booking tiket lalu berangkat. Luangkan waktu riset:

  • Baca review solo traveler di TripAdvisor, Reddit (r/solotravel), atau grup Facebook “Solo Travel Indonesia”.
  • Cek berita terkini tentang cuaca, banjir, erupsi gunung, atau isu keamanan.
  • Pelajari budaya lokal: cara berpakaian sopan, norma di tempat ibadah, dan frasa dasar bahasa setempat.
  • Download peta offline (Google Maps atau Maps.me) dan simpan nomor darurat (polisi 110, ambulans 118/119).

3. Siapkan Itinerary Fleksibel tapi Terstruktur

Buat rencana harian sederhana:

  • Pagi: sarapan dan eksplorasi ringan.
  • Siang: aktivitas utama.
  • Malam: kembali ke akomodasi sebelum gelap (khususnya jika perempuan).

Jangan jadwal terlalu padat — sisakan waktu istirahat. Punya “plan B” jika cuaca buruk atau capek. Bagikan itinerary ke keluarga/teman dekat, termasuk nama hotel dan estimasi check-in.

4. Prioritaskan Keamanan Pribadi

  • Akomodasi: Pilih hostel dengan rating tinggi dari solo traveler, atau hotel dekat pusat keramaian. Gunakan kunci tambahan atau door stop jika perlu.
  • Transportasi: Pakai ojek online resmi (GoJek/Grab), taksi Blue Bird, atau bus wisata. Hindari naik kendaraan sembarangan malam hari.
  • Barang berharga: Gunakan money belt atau tas anti-maling. Simpan paspor/fotokopi di cloud (Google Drive/Dropbox).
  • Komunikasi: Beli SIM card lokal segera sampai, aktifkan share location ke keluarga via WhatsApp. Bawa powerbank.
  • Kesehatan: Bawa obat pribadi, masker, hand sanitizer, dan asuransi perjalanan (penting banget untuk pemula).

5. Kenali Batas Kemampuan Fisik dan Mental

Jangan ikut-ikutan tren ekstrem hanya karena viral di TikTok. Contoh:

  • Trekking ringan di bukit dulu, bukan langsung summit gunung tinggi.
  • Snorkeling di spot dangkal, bukan diving tanpa sertifikat.
  • Jika merasa takut atau tidak nyaman, mundur saja — keselamatan lebih penting daripada foto keren.

Solo travel artinya kamu sendirian mengandalkan diri sendiri. Jika sakit, tersesat, atau kecelakaan, tidak ada yang langsung membantu.

6. Manfaatkan Teknologi dan Komunitas

  • Aplikasi wajib: Google Translate, XE Currency, TravelSpend (untuk budget), dan aplikasi booking seperti Traveloka/Agoda.
  • Gabung grup solo traveler di Facebook atau WhatsApp lokal untuk sharing tips real-time.
  • Jika ingin berteman, stay di hostel dorm atau ikut day tour/grup kecil.

Solo travel pertama sebaiknya jadi pengalaman positif, bukan trauma. Mulai dari destinasi dekat dan mudah, durasi 3–5 hari saja. Setelah percaya diri, baru naik level ke petualangan lebih menantang.

Ingat: Keberanian sejati bukan berani nekat, tapi berani mempersiapkan segalanya dengan baik. Selamat mencoba solo travel pertamamu — semoga penuh cerita indah dan aman!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *